LAYANG - LAYANG
Pada mulanya Cina mengklaim sebagai daerah penemu layang-layang pertama. Namun setelah diadakan penelitian daan menelusuri asal mula layang-layang di Kabupaten Muna. Dimana relief Layang-layang di salah satu Gua Liangkobhori merupakan bukti dan fakta yang terdapat pada bahan-bahan yang digunakan pada Layangan Kaghati yang masih serba alami, tidak dapat ditepis lagi bahwa layangan Kaghati di Kabupaten Muna ditemukan sebelum manusia mengenal api yaitu 30.000 Tahun Sebelum Masehi. Dengan demikian asumsi yang mrnyatakan cina sebagai penemu laying – laying perlu di kaji ulang.
Bahan-bahan yang terdapat pada layangan kaghati masih menggunakan bahan dari alam seperti :
- Daun Ubi Hutan /Kolope
- Bambu Kecil/ Owulu
- Dan talinya menggunakan Daun Nanas Hutan
Sementara di Cina sudah menggunakan bahan Plastik.
Layang-layang atau orang muna biasa disebut Kaghati, adalah permainan yang telah mendunia sejak masa Pra Pradaban. Selain sebagai olahraga, ternyata permainan ini juga mempunyai makna tersendiri seperti layang-layang diBali diadakan untuk memuja Dewi Sri saat musim panen tiba. Layang-Layang di Cina untuk memantau musuh dari luar tembok raksasa Cina, Sedangkan diKab. Muna Sulawesi Tenggara Layangan Kaghati ini memiliki 5 fungsi :
- Olah raga
- Seni
- Pendidikan Manajemen
- Menyampaikan Rasa Syukur Kepada Tuhan atas keberhasilan Panen
- Dan sebagai media untuk mencari kebesaran Tuhan.
Layang-layang Kaghati adalah layang-layang tradisional masyarakat suku Muna yang sudah ada semenjak zaman purba. Hal ini dapat diketahui dari hasil temuan peneliti Jerman yang meneliti peninggalan prasejarah di situs Liang Kobori Di dalam liang (gua) tersebut, terdapat lukisan-lukisan yang menunjukkan aktivitas suku Muna purba yang sedang menjalankan ritual menggunakan media layang-layang.
Konon, masyarakat suku Muna purba menyembah api yang dipercaya sebagai manifestasi Tuhan dan mereka meyakini sumber utama api terletak pada matahari. Untuk mencapainya, dilakukanlah ritual menerbangkann layang-layang Kaghati selama tujuh hari. Tepat pada hari ketujuh, tali layang-layang diputus agar dapat terbang menuju langit tempat Tuhan mereka (matahari) berada. Layang-layang yang lepas tersebut, diyakini akan memberi perlindungan bagi masyarakat suku Muna dari siksa api neraka setelah mereka meninggal.
Setelah agama Islam masuk ke Muna, ritual tersebut sudah tidak dilaksanakan lagi, karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama. Namun, masyarakat setempat masih menerbangkan Kaghati sebagai media hiburan dan ada juga yang dipakai untuk menjaga sawah atau lading mereka dari serangan hama burung dan babi hutan. Layang-layang tersebut dapat mengeluarkan bunyi, sehingga membuat burung dan babi menjadi takut.
Dalam perkembangannya, layang-layang Kaghati//kerap kali//diikutkan padan perlombaan tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 1996 dan 1997, layang-layang Kaghati mendapat penghargaan dari kalangan pecinta layang-layang, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai layang-layang yang paling alami yang masih ada.
Dengan bahan-bahan yang alami dan ringan, layang-layang ini mampu terbang tinggi dan bertahan lama di di udara. Ketahanannya sudah teruji sejak dahulu kala, sebagaimana telah dibuktikan oleh masyarakat Muna purba yang melakukan ritual dengan menggunakan layang-layang ini.
FESTIVAL LAYANG – LAYANG
Kota Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, tidaklah sepopuler Bali atau Yogyakarta. Padahal, ada segudang potensi wisata di tempat ini. Demi mempromosikan diri kepada dunia luar, Daerah Muna mengenalkan diri melalui layangan. Banyak penggemar layangan dari mancanegara memburu festival ini dan rela pergi jauh demi bisa main layangan di Muna.
festival layang-layang internasional sudah tiga kalinya digelar di Kota Raha. Beberapa negara sudah pernah mengikuti festival ini, yaitu Jepang, Prancis, Taiwan, Malaysia, Jerman, India, Cina, dan Swedia dan juga provinsi di Tanah Air.
Festival Layang-Layang Internasional ini telah menjadi kalender pariwisata sekaligus dapat menjadi media komunikasi antarnegara maupun antardaerah di Tanah Air.fesival layanngan ini sudah terangkat ke dunia internasional karena adanya layang-layang dari Kabupaten Muna yang terbuat dari daun 'kolope' (sejenis ubi hutan-red). Dari s dunia internasional mulai tertarik dengan festival layangan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar